Jumat, 27 November 2015
EKONOMI FILIPINA 6%, TERCEPAT DI ASIA
SAVE - Pada kuartal III-2015 pertumbuhan ekonomi Filipina tumbuh di 6%, angka tersebut menjadi ekonomi Filipina yang tumbuh tercepat di Asia pada tahun 2015 ini.
Melansir dari BBC, Jumat (27/11/2015), Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan menuturkan, angka pertumbuhan tersebut membuktikan bahwa negara tersebut stabil. Filipina ini merupakan negara yang memiliki ekonomi terbesar kelima di ASEAN.
Sementara dibandingkan kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi Filipina di kuartal III-2015 hanya tumbuh di angka 1,1%. Hal ini juga dibawah ekspektasi para pelaku ekonomi.
Melalui hasil pertumbuhan ini, Balisacan memperkirakan, sepanjang tahun 2015 ini ekonomi Filipina tumbuh di 6%.
Pendorong tervesar pertumbuhan ekonomi Filipina yaitu sektor jasa, sejalan dengan investasi dan belanja anggaran pemerintah.
Menurut Ekonom Barclays, Rahul Bajoria, nampaknya ada kenaikan investasi di sektor konstruksi dari pemerintah.
Anggaran infrastruktur negara ini telah mengalami peningkatan tiga kalo lipat, semenjak Benigno Aquino menjadi presiden Filipina 5 tahun lalu.
Walaupun demikian, pembangunan rel kereta, pelabuhan, jalan, dan pembangunan tetap belum sesuai rencana dan mundur dari jadwal. Situasi infrastruktur yang masih belum memadai ini menyebabkan biaya ekonomi hingga US$ 60 juta per hari di Filipina.
POSISI PEREKONOMIAN RI DI ASEAN
SAVE - Perlambatan ekonomi global juga
memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi regional Asia Tenggara. Selain
itu, ekonomi jangka menengah di wilayah ASEAN dikhawatirkan akan sulit untuk
tumbuh jika ASEAN selalu bergantung pada ekonomi global.
Oleh
karena itu, diverifikasi dari ekonomi ASEAN agar menghindari dari bahan-bahan
mentah dianggap sebagai hal penting guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi
ASEAN.
Dalam
jangka waktu panjang, diversifikasi ekonomi ASEAN akan memeberikan keuntungan
bagi setiap negara yang dapat menawarkan barang dan jasa, tidak termasuk Indonesia .
Syaratnya, Indoneisa harus melaukan penawaran barang dan jasa yang berada dari
negara lainnya di ASEAN.
Di
level ASEAN pertumbuhan ekonomi Indonesia
dinilai cukup memberikan harapan baik dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Dalam jangka pendek, pendapat pemerintah yang memanfaatkan pembangunan sebagai
investasi dapat memberikan stimulusbagi perekonomian Indonesia , yaitu melalui penyerapan
tenaga kerja.
"Pemerintah
Indonesia secara strategis
telah mengambil keuntungan saat harga-harga melonjak dan memberikan investasi
jangka panjang yang cocok dengan Indonesia . Namun, saat ini
merupakan kesempatan yang baik bagi pembuat kebijakan untuk melihat kesempatan
dalam industri dan high skill manufacture serta layanan jasa untuk pertumbuhan
ekonomi yang lebih naik," ucap Economic Advisor ICAEW Danae Kyriakopoulou,
Jumat (25/11/2015).
Dalam
sektor jangka panjang, Institute of Chartered Accountants in England
dan Wales (ICAEW) memprediksikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di
level ASEAN akan semakin membaik hingga tahun 2020 mendatang. Pertumbuhan Gross
Domestic Product (GDP) Indonesia
diproyeksikan tertinggi kedua di ASEAN yang mencapai sedikit di bawah 6%. Sedangkan
GDP tertinggi pada 2020 diprediksi akan diperoleh Vietnam dengan pertumbuhan GDP
mencapai 7%.
BI MENGANTISIPASI MENGENAI PEREDARAN UANG PALSU
SAVE - BI terus melakukan sosialisasi
mengenai waspada terhadap uang palsu untuk menyesuaikan peredarannya saat saat pelaksanaan
pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara bersamaan pada 9 Desember 2015.
"Masyarakat harus terus
waspada dan harus tahu membedakan mana uang rupiah yang asli dan mana uang
palsu," ucap Kepala Kantor BI Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) Peter
Jacobs, Jumat (27/11/2015).
Beliau
mengatakan biasanya orang yang tidak bertanggung jawab tersebut akan
memanfaatkan kesempatan tertentu seperti pada saat Pilkada peredaraan uang
palsu tersebut mulai dilakukan, sehingga masyarakat perlu mewaspadai hal
tersebut.
Oleh
karena itu, kata Peter, sosialisasi dan kas keliling akan terus dilakukan baik
terhadap swalayan, pasar tradisional maupun di tempat penduduk sehingga
masyarakat akan lebih cermat jika menerima uang.
BI Sulut
telah melakukan kerja sama dengan kepolisian bahkan Badan Narkotika Nasional
(BNN) dalam menyosialisasikan keaslian uang rupiah.
"Jika
masyarakat tahu membedakan mana rupiah asli atau palsu, maka kita tidak akan
tertipu, karena uang palsu tidak akan ada penggantiannya," jelasnya.
Pada bulan
Oktober 2015 lalu, ada sejumlah 262 lembar uang palsu yang ditemukan di
Provinsi Sulut.
"Dari
Januari hingga Oktober 2015, sebanyak 262 lembar uang palsu yang ditemukan
yakni 40 lembar pecahan 100 ribu, 15 lembar pecahan 50 ribu, satu lembar
pecahan 20 ribu dan dua lembar pecahan 10 ribu," jelas Peter.
Ia juga
menambahkan, BI akan terus melakukan upaya agar temuan uang palsu di Sulut dikurangi
dengan usaha sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya
pengetahuan cirri-ciri keaslian uang rupiah.
Untuk penindakan diserahkan
langsung ke pihak kepolisian, dan BI sudah melakukan kerja sama tersebut,"
ucapnya.
RI TIDAK PERLU MENURUNKAN PPh BADAN
SAVE - Rencananya pemerintah akan menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan. Hal ini dilakukan untuk bersaing dengan sejumlah negara lainnya yang masih memiliki tarif PPh Badan rendah.
Mengutip dari keterangan Danny Darussalam Tax Center, sebenarnya Indonesia tidak harus terlibat dalam kompetinsi pajak kawasan dengan melakukan penurunan tarif PPh Badan tersebut. Sebab, penurunan PPh Badan ini justru akan berpengaruh terhadap penerimaan pajak yang semakin menurun.
Menurutnya, usaha penurunan tarif PPh Badan kemungkinan akan berakhir percuma selama masih terdapat preferential tax regime di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura. Ditambah, Singapura yang memang diijuluki sebagai negara tax haven.
Selama ini, seandainya 8% kekayaan individu atau US$6 triliun disimpan di beberapa negara tax haven. kemungkinan hal tersebut akan menyebabkan penerimaan PPh Badan tidak menguntungkan.
Namun, Pengamat Perpajakan Yustinus Prastowo, rencana penurunan tarif PPh Badan masih belum dapat meningkatkan penerimaan secara signifikan. hal itu dihitung secara matematis jika basis pajak bertambah dan tarif turun.
"Jalan keluarnya ambil kebijakan berbasis riset komprehensif agar bertolak dari fakta empirik," ucap Yustinus.
Menurut beliau, perilaku menyimpang di sisi wajib pajak perlu direspon dengan kebijakan anti-penghindaran pajak. Sehingga, wajib pajak akan cenderung patuh jika mengetahui Pemerintah telah tahu hal tersebut.
"Maka kuncinya bikin Pemerintah punya data. Bangun sistemnya, atau minimal bikin kesan otoritas pajak kita kredibel dan kuat," jelasnya.
Kamis, 26 November 2015
MARKET UPDATES 27 NOVEMBER 2015
SAVE - Harga konsumen inti Jepang (core consumer prices ) merosot 0,1 persen pada bulan Oktober dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkannya hari Jumat. Indeks core consumer price, yang meliputi produk minyak tetapi tidak termasuk harga makanan segar, sesuai dengan perkiraan ekonom untuk kenaikan tahunan 0,1 persen.
Harga konsumen inti (core consumer prices ) di Tokyo, tersedia satu bulan sebelum data
nasional, tidak berubah pada bulan November dari tahun sebelumnya, dibandingkan estimasi median ekonom bahwa harga tidak berubah dari periode yang sama tahun lalu.
Tingkat pengangguran Jepang bulan Oktober turun menjadi 3,1 persen, data dari kementerian urusan internal menunjukkan Jumat ini. Median perkiraan adalah 3,4 persen.
Rasio jobs-applicants (pekerjaan-pelamar) mencapai 1,24 pada bulan Oktober, tidak berubah dari bulan sebelumnya.
posted by: admin-save-moneychanger
Harga konsumen inti (core consumer prices ) di Tokyo, tersedia satu bulan sebelum data
nasional, tidak berubah pada bulan November dari tahun sebelumnya, dibandingkan estimasi median ekonom bahwa harga tidak berubah dari periode yang sama tahun lalu.
Tingkat pengangguran Jepang bulan Oktober turun menjadi 3,1 persen, data dari kementerian urusan internal menunjukkan Jumat ini. Median perkiraan adalah 3,4 persen.
Rasio jobs-applicants (pekerjaan-pelamar) mencapai 1,24 pada bulan Oktober, tidak berubah dari bulan sebelumnya.
posted by: admin-save-moneychanger
DI TAHUN DEPAN PERTUMBUHAN INDUSTRI DITARGETKAN DI 5,7%
SAVE - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis di tahun yang akan dating sektor industri akan terus meningkat. Pertumbuhan industri ditargetkan mencapai 5,7%.
Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin menjelaskan,
pihaknya ingin terus menjaga konsistensi pertumbuhan industri lebih meningkat disbanding
angka pertumbuhan ekonomi nasional.
"Tahun 2016, ditargetkan pertumbuhan industri mampu
mencapai 5,7%. Ini di atas target pertumbuhan ekonomi yang 5,3%," ucapnya,
Kamis (26/11/2015).
Hingga triwulan III 2015, pertumbuhan industri pengolahan
non-migas sebanyak 5,21%, lebih meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan
ekonomi periode serupa pada tahun lalu 2014 sebesar 4,73%.
Sementara kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap
PDB nasional diharapkan sebesar 18,5%. Pada 2014, realisasi kontribusi sektor
industri mencapai 17,87%.
Terutama hingga triwulan III 2015, capaian kontribusi
mencapai 17,82%. Angka ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu
yang sebesar 17,42%.
Secara nominal, ekspor produk hasil industri (industri
pengolahan non migas) sampai Agustus 2015 sebanyak US$72,21 miliar dan impor
produk komoditi industri sebanyakUS$72,49 miliar.
Ekspor produk hasil industri (industri pengolahan non migas)
s.d Agustus 2015 memberikan kontribusi 70,44% terhadap total ekspor nasional.
Pangsa pasar ekspor utama produk industri menuju Amerika Serikat, Jepang , China ,
Singapura, dan India .
"Optimisme kita masih realistis karena didasari arus
investasi yang terus masuk dan termasuk realisasi ekspor serta produksi dari
industri, menengah hingga kecil," jelasnya.
Selain itu, tutur Saleh, dalam beberapa kali kesempatan
bertemu dengan pelaku industri dan kuinjungan pabrik, kepercayaan pada prospek
bisnis di Indonesia
masih cukup kuat.
Nilai investasi PMDN sektor industri pada triwulan III pada
tahun 2015 sebanyak Rp20,05 triliun atau tumbuh sebanyak 7,45% dibanding
triwulan III tahun 2014 sebesar Rp 18,66 triliun. Sedangkan nilai investasi PMA
sektor industri pada triwulan III tahun 2015 mencapai US$3,15 miliar. Sehingga
nilai total investasi yang masuk pada triwulan III pada tahun 2015 mencapai US$4,75
miliar
Harga Energi Kompetitif
Menperin juga terus menegaskan perlu adanya mendongkrak daya
saing industri. "Rumusnya ya dengan menekan faktor yang menjadi beban.
Ketersediaan energi listrik dan gas dengan harga yang bersaing, bunga bank yang
kompetitif dan cost logistik yang murah," kata Saleh.
Hal ini sudah lama didesar oleh kemenperin. Harga gas
misalnya, diakui memberatkan industri petrokimia yang merupakan pemasok ke
industri lainnya. Begitu juga menekan industri pupuk dan keramik.
"Syukurlah, pemerintah telah menetapkan harga gas untuk
pabrik dari lapangan gas sesuai kemampuan industri pupuk, USD 7 per MMBTU. Ini
berlaku Januari 2016," ucap dia, sembari mengungkapkan hal ini telah lama
diwacanakan dan akhirnya berhasil diwujudkan
"Artinya, memang butuh kerja keras dan ngotot. Toh
nyatanya bisa juga asalkan punya semangat yang sama demi kepentingan
sebanyak-banyaknya pihak," kata Saleh.
Langganan:
Postingan (Atom)





