Rabu, 30 Desember 2015

DOLAR AS SIANG INI SUDAH TEMBUS KE LEVEL Rp13.820

SAVE - Siang ini pergerakan dolar AS terhadap rupiah semakin menguat. Pergerakan mata uang negeri Paman Sam ini sempat menyentuh posisi tertingginya hari ini di angka Rp13.820.
Melansir data perdagangan Reuters, Rabu (30/12/2015), siang ini dolar AS berada di posisi Rp13.795.
Sementara pagi tadi, pembukaan dolar AS mengalami penurunan di Rp 13.671 jika dibandingkan dengan posisi perdagangan hari sebelumnya di Rp13.681.
Setelah sempat mengalami penurunan pada pembukaan, pergerakan The Greenback balik arah peningkatan dan secara perlahan terus meningkat hingga kepuncak tertingginya hari ini di Rp13.788.
Kepastian menganai suku bunga The Fed menghilangkan satu ketidakpastian di ekonomi global.
Akan tetapi, laju dolar AS nampaknya sedikit demi sedikit mulai naik kembali setelah sempat mengalami penurunan beberapa waktu lalu.
Pergerakan rupiah sejak awal tahun ini (year to date) masih mengalami penurunan sebesar 10%.   

PERLAMBATAN EKONOMI CHINA DIPERKIRAKAN AKAN BERLANJUT DI TAHUN DEPAN

SAVE - Sepanjang tahun 2015, China mengalami perlambatan ekonomi dan diperkirakan akan terus berlangsung hingga tahun depan. Selain itu, di tahun 2020 mendatang, peran China yang selama ini sebagai salah satu negara yang menyokong pertumbuhan ekonomi dunia kemungkinan akan digantikan oleh Amerika Serikat (AS) dan India.
Walaupun pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih belum mampu mencapai 7% pada tahun depan, dunia juga masih sulit untuk memperkirakan kondisi ekonomi China. Lantaran, hingga akhir tahun ini pertumbuhan konsumsi China justru mengalami pertumbuhan.
Akan tetapi, di sisi lain masih ada anggapan bahwa pemerintah China akan kembali melakukan intervensi kebijakan dalam bidang perekonomian. Hal tersebut membuat perekonomian China sulit untuk diprediksi sepanjang tahun 2016 mendatang.
Sementara itu, Amerika Serikat meyakini pada tahun 2016 mendatang, China tidak lagi memberikan dampak besar terhadap perekonomian dunia pada umumnya, dan AS pada khususnya. Sebab, 85% pendorong ekonomi AS justru berada dari negara-negara maju dan negara berkembang lainnya. Akan tetapi, Amerika Serikat mengaku bahwa masih memiliki kekhawatiran terhadap stabilitas pasar global yang dapat terpengaruh dari perlambatah ekonomi China.
“The Fed khawatir tentang stabilitas pasar global. Mereka sangat bergantung pada satu sama lain,” ucap Managing Director Citizens Bank, Rabu (30/12/2015).
Pengamat dari Morgan Stanley, Zeanter mengatakan bahwa dunia internasional harus mewaspadai adanya deflasi mata uang China. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan ketidakpastian terhadap harga penjualan di China sehingga dapat mempengaruhi perdagangan global.
“Jika kita terus mengimpor banyak deflasi dari China, ini dapat menyebabkan ketidakpastian terhadap prospek inflasi,” tutur Zaenter.  

Selasa, 29 Desember 2015

PERGERAKAN SAHAM PRODUSEN BAN SAAT INI DALAM PENGAWASAN BEI

SAVE - Pergerakan perdagangan saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) saat ini dalam pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengawasan yang dilakukan bursa, telah mengalami peningkatan harga dan kegiatan saham yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity).
“Terkait dengan terjadinya UMA terhadap saham MAMI dan FMII tersebut, perlu kami sampaikan bahwa saat ini bursa sedangan mengamati perkembangan cara kerja transaksi saham ini,” ucap Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI Eko Siswanto, Selasa (29/12/2015).
Hal ini membuat para investor diminta untuk mewaspadai jawaban perusahaan tercatat atas permintaan bursa.
Mengamati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasi. Mempelajari kembali rencana yang dilakukan corporate action perusahaan tercatat jika rencana tersebut belum mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Melakukan pertimbangan dalam mengabil keputusan dapat menimbulkan dampak dikemudian hari.
Hingga siang ini, saham MASA mengalami penurunan sebesar 30 poin atau 9,15% menjadi Rp298. 

WALL STREET MEMBURUK AKIBAT MENURUNNYA HARGA MINYAK

SAVE - Pada awal pekan bursa saham Wall Street berakhir memburuk  akibat harga minyak yang kembali mengalami penurunan. Hal ini membuat saham Apple jatuh paling dalam.
Sebelumnya, sejak awal tahun 2015 ini pergerakan Indeks S&P sempat mengalami kenaikan tipis 2% namun pada akhirnya Indeks S&P harus kembali menurun. Akibat adanya aksi jual saham Exxon Mobil dan Chevron, Indeks sektor energi mengalami penurunan hingga 1,8%.
Di beberapa minggu terakhir ini pasar saham Paman Sam ini merespons harga minyak yang memang masih belum stabil.
“Isu mengenai naiknya suku bunga The Fed sudah lewat. Sekarang pasar saham lebih fokus ke harga minyak yang fluktuaktif dalam beberapa minggu ini,” ucap Tim Courtney, CEO Exencial Wealth Advisors, Selasa (29/12/2015).
Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (28/12/2015) waktu setempat, Indeks Dow Jones menurun 0,14% menjadi 17.528,47 dan Indeks S&P 500 anjlok 0,22% menjadi 2.056,51. Sementara Indeks Komposit Nasdaq menurun 0,15% menjadi 5.040,99.

Rabu, 16 Desember 2015

BI LUNCURKAN SBBI GUNA MENAHAN DOLAR KELUAR DARI INDONESIA

SAVE - Bank Sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, akan segera melakukan pertemuan yang akan membahas masalah kenaikan suku bunga AS. Sedikit demi sedikit para investor  juga sudah mulai menarik dananya dari Indonesia, yang terlihat dari penurunan nilai tukar rupiah.
Pada saat yang sama, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) untuk pertama kalinya. Hal tersebut merupakan bagian dari usaha BI agar cadangan devisa semakin kuat dan menahan dolar AS agar tetap masuk ke Indonesia.
“Ini mampu menarik likuiditas dolar di dalam negeri, dari pada disimpan di luar negeri, BI juga terus menjaga agar dolar AS tetap berada di dalam negeri,” ucap Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara.
Dari penerbit SBBI, Mirza berkata kemungkinan juga akan ada dana segar masuk dari luar negeri . lantaran ini tidak terbatas hanya untuk investor di Indonesia saja.  
“Karena SBBI valas itu bisa dibeli oleh Investor dan bank dalam negeri, bisa juga investor luar negeri. Jadi investor luar negeri ada capital inflow,” jelasnya.
Tercatat pada tanggal 15 Desember 2015 SBBI telah dikeluarkan dengan nominal penawaran US$1,05 miliar, meskipun yang terserap hanya US$500 juta. Jangka waktu yang ditetapkan yaitu 6 bulan atau jatuh tempo pada 24 Juni 2016 mendatang. 

APINDO: DI TAHUN 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI RI DIPERKIRAKAN AKAN TUMBUH DI 5,5%

SAVE - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksikan, pada tahun 2016 mendatang pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai hingga 5,5%. Hal ini pun lebih tinggi dari prediksi pertumbuhan ekonomi pemerintah yang berada di 5,3%.
“Kami menilai 5,3% tertinggi dari sisi optimisnya pemerintah. Tapi kami lebih optimis lagi jika pertumbuhan ekonomi melebihi prediksi pemerintah,” ucap Ketua Apindo Haryadi Sukamdani.
Menurutnya, seluruh paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan di tahun ini kemungkinan mampu mendorong realisasi pertumbuhan ekonomi di 2016 mencapai 5,5%. Paket tersebut diyakini akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi jauh jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Selain itu faktor pendukung lainnya, kami melihat belanja pemerintah di era Presiden Jokowi dimajukan dengan dipercepat pencairan belanja pemerintah. Secara otomatis strart akan lebih cepat. Sementara ketika kita mengandalkan inflasi, kita lihat inflasi di tahun ini pun mengalami sedikit penurunan,” jelasnya.
Menurut Haryadi, hal tersebut kemungkinan akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 nanti. Selain itu pemerintah telah memberikan kemudahan syarat dan fasilitas bagi para investor, hal inilah yang akan mendorong perekonomian Indonesia akan semakin membaik ke depannya.   

Selasa, 15 Desember 2015

IMPOR MENINGKAT ADA PENGARUH POSITIF BAGI RI

SAVE - Tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2015 ada penurunan ekspor sebesar 7,91% dan kenaikan impor 3,61%. Walaupun demikian, Indonesia maSih terbilang akan memperoleh pengaruh baik dari meningkatnya impor.
Pengamat Ekonomi Raden Pardede berkata, ada baiknya Indonesia melihat adanya hal positif dari barang-barang impor yang masuk ke Indonesia. Sebab, barang impor tersebut akan memberikan multiplier effect bagi Indonesia.
“Misalnya mesin. Dalam waktu dekat impor mesin akan membuka lapangan kerja bagi para tenaga ahli mesin. Sementara dalam waktu panjang juga akan dapat meningkatkan hasil produksi barang untuk dapat di impor. Ini kan positif,” ucapr Raden, Selasa (15/12/2015).
 Ia menuturkan, impor yang mengalami kenaikan tidak semestinya dipandang buruk. Akan tetapi, kenaikan ini seharusnya kita syukuri.
Oleh karena itu, berharap Indonesia dapat melihat masuknya barang impor sebagai kesempatan. Sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada 2016 yang akan datang.