Jumat, 10 Juni 2016

BI PREDIKSI INFLASI JUNI DI 0,59%

SAVE - Pada pekan pertama di Juni ini, Bank Indonesia (BI) memperkirakan angka inflasi pada Juni 2016 ini kemungkinan akan mencapai di 0,59%.

“Hasil survei di minggu pertama untuk Juni ini yaitu 0,59%. Kita terus memperhatikan bagaimana koordinasi yang dilakukan oleh Pempus dan Pemda untuk menjaga angka inflasi. Kita terlihat masih sejalan dengan target 4% plus minus 1%,” jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo.

Selain itu, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah stabil. Sementara besaran credit default swap (CDS) Indonesia yang mengalami penurunan ke bawah 190, dari sebelumnya yang berada di atas 200. Hal ini menunjukan bahwa risiko ekonomi dalam negeri tengah berkurang.

Meski demikian, kondisi ekonomi internasional harus tetap diwaspadai lantaran masih belum stabil, khususnya di Amerika Serikat (AS).

Pada tiga hari yang lalu di AS, 6-8 Juni, memang membuat pasar dunia optimes. Namun hari ini kembali menurun, sebab pada saat yang lalu non farm pay roll menunjukan angka yang rendah. Dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun akibat masalah pengangguran yang terlihat lebih rendah di AS membuat kita terpengaruh.

Kamis, 09 Juni 2016

HARGA MINYAK TEMBUS LEBIH DARI US$50/BAREL

SAVE - Akibat persediaan minyak mentah AS yang mengalami penurunan membuat harga minyak mencapai posisi tertingginya di tahun 2016 ini. Berdasarkan dari Reuters, Kamis (9/6/2016), meningkatnya harga minyak didorong oleh penurunan persediaan minyak mentah AS, penurunan dolar AS dan adanya permintaan yang kuat.

Pada 00.45 GMT, minyak mentah yang berjangka Brent diperdagangkan di US$52,70/barel, angka tersebut mengalami kenaikan 19 sen USD dari posisi penutupan terakhir.

Sedangkan untuk West Texas Intermediate (WTI), minyak mentah ini diperdagangkan di posisi US$51,55/barel atau naik lebih tinggi 32 sen USD.

Energy Information Administration (EIA) merupakan data dari AS yang menunjukan stok minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar 3,23 juta barel menjadi 532.500.000 barel pada minggu lalu, hal ini memberikan tanda adanya penurunan mingguan ketiga berturut-turut.

Di bulan ini dolar AS mengalami penurunan sekitar 2,4% terhadap beberapa mata uang dunia lainnya, hal ini membuat impor bahan bakar dolar diperdagangkan untuk sejumlah negara yang menggunakan mata uangnya lebih murah, ini juga membantu harga minyak.

Selain itu, adanya tanda-tanda kenaikan harga minyak baru-baru, yang menunjukan Brent reli di 6% dibulan ini dan harga dua kali lipat sejak Februari ke tertinggi, kemungkinan berlebihan.

Harga minyak yang berada di sekitar USD50 hingga US$60/barel dinilai masih wajar, jika fundamental berat baik untuk melawan harga yang lebih tinggi.

Rabu, 08 Juni 2016

DOLAR AS TERUS MENURUN, GUBERNUR BI: HAL INI DIDORONG EKONOMI DOMESTIK

SAVEPada bulan Juni 2016 ini, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan stabil dan sudah mengalmi penguatan hingga 3,9% sejak awal tahun ini. Pada perdagangan kemarin, dolar AS ditutup di posisi Rp13.265.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, stabilnya rupiah ini disebabkan karena adanya penguatan perekonomian domestik.

“Kami bisa menyampaikan kurs US$/Juni ini sepanjang tahun 2016 pergerakan rupiah akan stabil dan secara year to date rupiah diperkirakan akan menguat 3,9%, hari ini ditutup Rp13.265, stabilnya rupiah didprpng oleh persepsi perekonomian donestik,” ucap Agus.

Selain itu, hal ini juga didukung oleh korporasi di dalam negeri yang melakukan banyak ekspor. Kemudian juga berkomitmen untuk melakukan reformasi struktural dengan menurunkan BI rate dan Giro Wajib Minimum (GWM).

“Hal tersebut juga didukung oleh korporasi di dalam negeri yang memiliki aktivitas ekspor, ikut melepas dolar. Kami melihat pengaruh baik berada dalam hal lantaran Pemerintah terus berkomitmen untuk mereformasi struktural yang keluar dari paket kebijakan dan BI rate kamu turunkan 0,75% sementara GWM 1,5%,” lanjut beliau.

Sementara, ke depan masih adanya risiko mengenai Fed Fun Rete yang diperkirakan masih akan naik 2 kali pada Juni dan Desember, membuat rupiah masih akan mengalami tekanan.   

Selasa, 07 Juni 2016

PENURUNAN BI RATE MASIH BELUM MAMPU TEKAN KREDIT PERBANKAN

SAVEKomite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai penurunan suku bunga BI rate pada kuartal tahun 2016 masih belum mampu mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan di Indonesia. Karena, kebijakan penurunan suku bunga tidak dilakukan dengan sistem yang baik sehingga kurang memberikan pengaruh.

Hendri Saparini, Anggota KEIN mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu adanya pendanaan yang banyak. Oleh karena itu, suku bunga perbakan juga harus rendah agar masyarakat mudah mengakses pendanaan di perbankan.

Kibijakan menurunkan suku bunga tanpa melalui sistem tidak akan sustainable atau berkepanjangan dan memberikan pengaruh buruk terhadap pasar.

Sementara, pada saat Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk melakukan penurunan terhadap BI rate, suku  bunga di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengikuti. Namun, dmpak dari hal tersebut hanya suku bunga deposito yang menurun sedangkan suku bunga kredit masih belum bergerak.

“Untuk itu kita melakukan kajian, kita usulkan kepada Presiden untuk memberlakukan dan mendorong adanya perubahan dalam sistem moneter ini. Jadi kita sudah menyampaikan langkah apa yang harus dilakukan. Tidak perlu merubah aturan perundangan dan tidak akan mengintervesni pasar. Hal ini akan dilakukan diskusi lebih dalam untuk memaksimalkan tujuan kebijakan ini,” jelasnya.  

RUPIAH DAN MATA UANG ASEAN MENGUAT KEMBALI

SAVEPada perdagangan hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terlihat semakin mambaik dengan penguatan 29 poin atau 0,22% menjadi Rp13.341/US$. 

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (6/6/2016), di pasar spot nilai tukar rupiah menguat tajam sebesar 225 poin atau 1,66% ke posisi Rp13.370/US$.

Mengutip Bloomberg, pagi ini kurs rupiah dibuka di posisi Rp13.361/US$, angka ini menguat tipis 9 poin atau 0,07%. Sedangkan menurut Yahoo Finance, hari ini Selasa (7/6/2016), rupiah dibuka menguat 35 poin ke posisi Rp13.335/US$.

Sementara, berdasarkan kurs Jisdor BI, rupiah dibuka di posisi Rp13.375/US$, angka ini menguat dibandingkan dengan posisi perdagangan kemarin.

Selain rupiah, mata uang lainnya di nagara-nagara ASEAN juga ikut menguat pagi ini. Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman tentang data kinerja AS yang berada di bawah ekspektasi pasar akhir pekan lalu. 

Senin, 06 Juni 2016

DOLAR AS BERGERAK MENURUN DI SEKITAR Rp13.300

SAVEKurs dolarAS terus mengalami pelemahan terhadap rupiah. Pergerakan mata uang Paman Sam ini menyentuh posisi berunya siang ini di sekitar Rp13.300.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Senin (6/6/2016), siang ini dolar AS bergerak menurun ke posisi Rp13.381.

Sementara pagi tadi, dolar AS juga dibuka melemah di posisi Rp13.461 dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp13.590.

Hingga siang ini, dolar AS masih mengalami penurunan sebesar 80 poin.

Hingga pukul 14.20 WIB, dolar AS parkir di posisi terendahnya di Rp13.381.

Jika dilihat secara year to date (ytd), mata uang Paman Sam ini masih melemah terhadap rupiah sebesar 2,46%.

Kamis, 02 Juni 2016

IHSG DIBUKA MELEMAH ATAU TURUN 4 POIN

SAVEMengawali perdagangan hari ini, Kamis (2/6/2016), pergerakan IHSG berada di zona negatif.

Pada perdagangan preopening, pergerakan IHSG berada di posisi 4.836,505 angka ini menurun 3,163 poin atau 0,07%. Sedangkan indeks LQ45 mengalami penurunan 0,782 poin atau 0,09% menjadi 828.646.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (2/6/2016), pembukaan IHSG terpangkas 4,675 poin atau 0,10% menjadi 4.834,993. Dan indeks LQ45 dibuka di posisi 828.607, angka ini terkoreksi 0,821 poin atau 0,10%.

Sementara di pasar uang, dolar AS mengalami penguatan terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, pagi ini dolar AS dibuka di posisi Rp13.655, angka ini naik 22 poin dari posisi sore kemarin di Rp13.633.