Selasa, 05 Januari 2016

KRISIS TIMUR TENGAH IKUT TEKAN RUPIAH


SAVE - Akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, Rupiah semakin terpuruk terhadap Dollar AS. Konflik Timur Tengah membuat Dollar AS menguat dan menekan semua mata uang dunia.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS berada pada level 13,931 per Dollar AS pada Selasa 5/1/2016. Level tersebut melemah jika dibandingkan dengan perdagangan sehari sebelumnya yang berada pada level  13,898 per Dollar AS. Sumber data dari Jisdor BI.

Namun menurut Bloomberg, level pembukaan Rupiah terhadap Dollar AS adalah pada 13,963 per Dollar AS. Melemah jika dibandingkan pada perdagangan sehari sebelumnya yang berada pada level 13,943 per Dollar AS. Rupiah mengalami sedikit penguatan pada siang hari ke level 13,824 per Dollar AS.



posted by: SAVEMONEYCHANGER

CHINA KEMBALI MELAKUKAN DEVALUASI YUAN, DAN TERENDAH SEJAK TAHUN 2011

SAVE - Bank sentral China kembali melakukan penurunan nilai tukar yuan terhadap dolar AS. Saat ini nilai satu dolar AS sama dengan 6,5 yuan.

Posisi nilai mata uang tirai bambu ini terendah sejak empat setengah tahun terakhir atau sekitar tahun 2011 lalu.

Saat ini The People’s Bank of China (PBoC) sedang melakukan upaya agar mata uang yuan lebih ‘market friendly’ atau lebih jelasnya jika di pasar nilainya lebih bersahat.

Beberapa waktu lalu, Dana Moneter Internasional atau Internasional Monetary Fund (IMF) telah memasukan yuan sebagai mata uang internasional, yang setara dengan dolar AS dan euro. Akan tetapi, masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mata uang yuan disahkan.

Walaupun demikian, pergerakan mata uang yuan masih akan terus diamati oleh bank sentral China. Setiap harinya renminbi hanya dapat bergerak naik-turun maksimal 2% saja.

Kemarin PBoC menetapkan dolar AS sejajar 6,5 yuan atau pada system perdagangan valuta asing China merupakan terendah sejak 24 Mei 2011.

Hal ini buka pertama kalinya PBoC melakukan penurunan mata uangnya. Pada bulan Agustus lalu, mata uang yuan mendadak anjlok sebesar 5% terhadap dolar hanya dalam satu minggu. Hal ini membuat kekhawatiran di pasar keuangan dunia.

Demi meningkatkan daya saing ekspornya China sengaja menjatuhkan mata uangnya yuan. Dalam beberapa tahun terakhir ini ekonomi China sudah mengalami perlambatan.

“Tren penurunan yuan berlanjut di awal tahun ini sejalan dengan rencana The People’s Bank of China,” ucap Eddie Cheung, analis valas dari Standard Chartered cabang Hong Kong, Selasa (5/1/2016).

“Dikuartal pertama penurunan yuan akan semakin dalam,” tambahnya.  

IHSG MASIH AKAN TERUS LAKUKAN KOREKSI


SAVE - IHSG masih akan melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Penyebabnya masih sama, yaitu konflik Timur Tengah dan bursa saham Asia.

Lanjar Nafi, analisis dari PT. Reliances Securities menegaskan bahwa IHSG masih akan melakukan koreksi besar pada titik 4,470-4,560.

Turunnya IHSG sebesar 1.46% ke titik 4,525 pada hari Senin, 4 Januari 2016 disebabkan karena kekhawatiran perlambatan perkembangan ekonomi China dan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.

Dari dalam negeri sendiri, pelemahan terhadap inflasi pada bulan Desember 2015 kemarin juga menjadi faktor yang mempengaruhi IHSG.




posted by: SAVEMONEYCHANGER

RATE VALAS SELASA 5 JANUARI 2016


posted by: SAVEMONEYCHANGER

Senin, 04 Januari 2016

RATE VALAS SENIN 4 JANUARI 2016


posted by: SAVEMONEYCHANGER

JOKOWI RESMIKAN PASAR SAHAM 2016, IHSG KEMBALI MENURUN

SAVE - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi membuka sektor perdagangan saham perdana di pasar modal pada awal tahun 2016. Namun sayangnya kehadiran Jokowi belum mampu mendorong pergerakan IHSG yang justru mengalami penurunan ke posisi 4.571 angka tersebut menurun sebesar 0,5%.

“Dengan ini saya menyatakan dibuka dan dimulai perdagangan saham di tahun ini, ucap Jokowi, Senin (4/1/2016).

Ia menjelaskan, perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2015 lalu sangat berat akan tetapi semuanya merupakan tantangan yang dapat dijalani Indonesia dengan baik. Tantangan itu menurutnya mengarah kepada sektor keuangan lantaran banyak hal yang kita hadapi perlambatan ekonomi dunia.

“Ketakutan suku bunga The Fed memang memberikan pengaruh, tapi ada juga optimisme yang muncul pada tahun kemarin,” katanya.

Menurut mantan gubernur DKI Jakarta itu, terus optimis agar dapat meraih kinerja ekonomi yang lebih baik di tahun ini. Semua langkah juga harus disambut dengan baik. Di tempat yang sama, Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menturkan, pergerakan IHSG yang mengalami penurunan ke zona merah di awal tahun dianggap sudah biasa.

Dijelaskannya IHSG pada Desember tahun lalu  nampaknya diharuskan bergerak naik. Sebenarnya, pergerakan indeks global sudah terlihat menurun. “Bawaan dari akhir Desember kemarin. Harusnya mau ikuti bursa saham global menjelang akhir tahun banyak yang mengalami penurunan akibat harga minyak turun,” tutur Reza.

Selain itu, bertambahnya kepercayaan investor di tahun ini masih belum membaik. Sebab kondisi nilai tukar rupiah masih belum stabil terhadap dolar AS.

“Kalau dalam negeri, obligasi turun, rupiah masih Rp13.800/US$. Sementara IHSG terkesan dipaksa naik, akhirnya ada momen pasar profit taking pada awal tahun,” jelasnya.   

AWAL TAHUN LAJU RUPIAH DIPERKIRAKAN BALIK MENGUAT

SAVE - Pada awal tahun 2016, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan mengalami pembalikan arah peningkatan. Walaupun demikian, Kapala Riset Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengingatkan agar tetap mengamati berbagai sentimen yang dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan rupiah.

“Kenyataan yang harus diterima oleh rupiah, potensi laju peningkatan jelas akhir tahun harus terganjal dengan mulai kembali mulai meningkatkanya laju USD,” jelasnya, Senin (4/1/2016).

Ia juga menjelaskan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terkena imbas akibat penurunan harga minyak mentah yang juga berdampak pada penurunan beberapa harga komoditas. Menurut beliau, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia rupiah akan berada di posisi rentang Rp13.770 hingga Rp13.812/US$.

Sementara itu, meski pada minggu terakhir tahun lalu harga minyak mentah mulai kembali mengalami kenaikan, namun ditunjukannya pergerakan dolar AS belum menunjukan penurunan sehingga pergerakan rupiah belum dapat bergeser dari level negatif akhir tahun lalu.

Oleh karena itu pergerakan rupiah harus puas mengakhiri tahun 2015 di zona merah, sedangakan IHSG berhasil meningkat di hari terakhir pada perdagangan 2015. “Menurunya EUR, NZD, JPY Dan INR jugs ikut memberikan pengaruh buruk pada pergerakan rupiah,” jelasnya.